Jumat, 27 September 2019

BUDIDAYA PORANG



PENGERTIAN

Porang (Amorphophallus muelleri Blume) adalah salah satu jenis tanaman iles-iles yang tumbuh dalam hutan. Porang merupakan tumbuhan semak (herba) yang berumbi di dalam tanah. Umbi porang berpotensi memiliki nilai ekonomis yang tinggi, karena mengandung glukomanan yang baik untuk kesehatan dan dapat dengan mudah diolah menjadi bahan pangan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

SYARAT TUMBUH

Tanaman porang yang dibudidayakan harus punya kualitas yang baik, untuk itu perlu diketahui syarat-syarat tumbuh tanaman porang, antara lain:

1.    Keadaan iklim

·         Intensitas cahaya 60 – 70%

·    Ketinggian 0 – 700 m dpl. Namun yang paling bagus pada daerah dengan ketinggian 100 – 600 m dpl.

2.    Keadaan tanah

·      Dibutuhkan tanah yang gembur/subur dan tidak becek.

·      Tanah dengan tekstur lempung berpasir dan bersih dari alang-alang.

·      Derajat keasaman tanah ideal antara pH 6 – 7.

3.    Kondisi lingkungan

·      Naungan yang ideal: Jati, Mahoni Sono, dan lain-lain.

· Tingkat kerapatan naungan minimal 40% maksimal 60%. Semakin rapat semakin baik.


 
BUDIDAYA PORANG

Persiapan lahan

Lokasi tumbuh tanaman porang yang baik adalah di bawah naungan dengan itensitas cahaya 60-70%.

Kegiatan persiapan lahan:

1.    Pada lahan datar

Setelah lahan dibersihkan dari semak-semak liar/gulma lalu dibuat guludan selebar 50 cm dengan tinggi 25 cm dan panjang disesuaikan dengan lahan. Jarak antara guludan adalah 50 cm.

2.    Pada lahan miring

Lahan dibersihkan tidak perlu diolah. Lalu dibuat lubang tempat ruang tumbuh bibit yang dilaksanakan pada saat penanaman.

Persiapan bibit

Porang dapat diperbanyak secara vegetatif dan generatif (biji, bulbil/katak). Bibit yang dipilih adalah dari umbi dan bulbil yang sehat. Bibit porang cukup ditanam sekali. Setelah bibit yang ditanam berumur 3 tahun, dapat dipanen selanjutnya dapat dipanen setiap tahunnya tanpa perlu penanaman kembali.

Kebutuhan bibit per satuan luas sangat tergantung pada jenis bibit yang digunakan dan jarak tanam. Dengan prosentase tumbuh benih diatas 90%, kebutuhan benih per hektar dengan jarak tanam 0,5 m adalah:

1.
Umbi
: 1.500 kg (± 20-30 buah/kg)
2.
Biji
: 300 kg
3.
Bulbil : 350 kg (±170 – 175 buah/kg)






Tata cara penyiapan bibit dari umbi

1)   Tentukan anakan tanaman porang yang berumur ±1 tahun yang pertumbuhannya subur dan sehat.

2)    Bongkar tanaman dan bersihkan umbi dari akar dan tanah.

3)    Kumpulkan bibit tersebut di tempat yang teduh untuk penanganan selanjutnya yaitu penanaman (1 umbi porang hanya menghasilkan 1 tanaman porang).


Tata cara penyiapan bibit dari biji

Tanaman porang pada setiap kurun waktu 4 tahun akan menghasilkan bunga yang kemudian menjadi buah atau biji. Dalam 1 tongkol buah bisa menghasilkan biji sampai 250 butir yang dapat digunakan sebagai bibit porang dengan cara disemaikan terlebih dahulu.


Tata cara budidaya dengan perkecambahan poliembrioni


Poliembrioni adalah adanya lebih dari satu embrio dalam satu biji. Pada tata cara budidaya pembibitan dengan menggunakan biji maka satu biji porang akan langsung disemai sehingga satu biji porang hanya menghasilkan satu bibit baru.


Namun demikian dengan metode poliembrioni, pada satu biji porang dilakukan proses pembelahan biji untuk memisahkan embrio-embrio dalam satu biji (Gambar 5D). Embrio yang telah dipisahkan tersebut kemudian disemai hingga tumbuh tunas sehingga dihasilkan lebih dari satu bibit baru dari satu biji.


Budidaya porang metode poliembrioni ini biasanya dilaksanakan sejak bulan Agustus, ketika bunga porang mulai rebah, kemudian biji ditampung. Selanjutnya biji-biji tersebutk kemudian dibelah dan embrio-embrionya dipisahkan. Dibutuhkan waktu 6-7 minggu sejak embrio disemaikan hingga berkecambah. Embrio yang telah berkecambah dipindahkan ke dalam kantong polybag hingga 8 minggu sebelum siap ditanam ke lahan.
 
Penanaman porang

Porang sangat baik ditanam ketika musim hujan, yaitu sekitar bulan November – Desember. Tahap penanaman porang adalah sebagai berikut:

1.    Bibit yang sehat satu per satu dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan letak bakal tunas menghadap ke atas.

2.    Tiap lubang tanaman diisi 1 bibit porang dengan jarak tanam sesuai kebutuhan.

3.    Tutup bibit dengan tanah halus / tanah olahan setebal ±3 cm.

Pemeliharaan tanaman porang

Tanaman porang merupakan tanaman yang memerlukan pemeliharaan secara khusus. Namun untuk mendapatkan hasil pertumbuhan dan produksi yang maksimal, dapat dilakukan perawatan yang intensif dengan cara:

1. Penyiangan

o   Dilakukan dengan membersihkan gulma yang berupa rumput liar yang dapat menjadi pesaing tanaman porang dalam hal kebutuhan air dan unsur hara.

o   Sebaiknya dilakukan sebulan setelah umbi porang ditanam. Penyiangan berikutnya dapat dilakukan saat gulma muncul.
                o   Gulma    yang   terkumpul     ditimbun

dalam sebuah lubang agar membusuk dan menjadi kompos.
2. Pemupukan

Pada saat pertama kali ditanam, dilakukan pemupukan dasar. Untuk pemupukan berikutnya dapat dilakukan setahun sekali (awal musim hujan). Jenis pupuk adalah pupuk urea 10 g/lubang dan SP 36,5 g/lubang. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara ditanam disekitar batang porang.

3. Pengamanan pohon pelindung

Porang merupakan tanaman yang butuh naungan. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeliharaan terhadap pohon pelindung agar pohon pelindung dan tanaman porang dapat tumbuh dengan baik.
 



Jumat, 30 Agustus 2019

Pencegahan Kebakaran Hutan


Kebakaran hutan adalah peristiwa dimana wilayah yang terdapat banyak pohon, semak, paku-pakuan, dan rumput mengalami perubahan bentuk yang disebabkan pembakaran yang besar-besaran. Kebakaran hutan menyebabkan hutan dilanda api sehingga membuat hutan lenyap dimakan api. Dampak yang disebabkan kebakaran hutan dapat berupa positif dan negatif tetapi dampak negatif melebihi dampak positif.
Penyebab terjadinya kebakaran hutan ada dua macam yaitu faktor alam dan faktor ulah manusia. Kebakaran hutan yang disebabkan oleh faktor alam bisa berupa kekeringan, musim panas yang berkepajangan, dan sambaran petir. Terjadinya angin yang kencang juga bisa menyebabkan kebakaran hutan. Apabila dua batang pohon bergesekan karena tertiup angin kencang maka bisa menyulut api kecil yang menjadi besar.
Kebakaran hutan yang disebabkan oleh faktor ulah manusia yaitu pembakaran hutan secara sengaja untuk membuka lahan baru, membuang sembarangan putung rokok, dan membakar sampah di dekat hutan. Faktor ulah manusia sebagai penyebab kebakaran hutan melebihi dari pada faktor alam. Sebagai contoh 95 persen kebakaran hutan di Indonesia disebabkan oleh ulah manusia.
 Akibat dari terjadinya kebakaran hutan memberikan dampak yang besar untuk lingkungan yaitu kabut asap, matinya pepohonan, binatang tidak mempunyai tempat tinggal, dan menjadi penyebab dari terjadinya banjir dan tanah longsor. Untuk mengurangi dampak dari kebakaran hutan marilah kita bersama-sama menjaga hutan.

Penyebab Kebakaran Hutan
Sebelum membahas mengenai proses terjadinya kebakaran hutan, kita perlu mengetahui apa saja hal- hal atau faktor- faktor yang menjadi penyebab kebakaran hutan terlebih dahulu supaya kita tahu bahwa proses terjadinya kebakaran hutan tidak akan terjadi tanpa adanya faktor penyebab yang menjadikan hutan tersebut terbakar. Adapun beberapa faktor yang menjadi penyebab kebakaran hutan antara lain adalah sebagai berikut:
  •   Sengaja dibakar manusia
  •   Cuaca panas atau terik matahari
  •   Aktivitas gunung berapi
  •   Sambaran petir
  •   Kebakaran di bawah tanah
  •   Aktivitas yang tidak disengaja
Nah itulah beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab kebakaran hutan. hal- hal di atas dapat terjadi sewaktu- waktu, namun dari beberapa peyebab di atas, musim kemarau lah yang paling banyak menyumbang terjadinya kebakaran hutan. maka dari itulah kita sering mendengar berita kebakaran hutan ketika di musim kemarau.
      Kebakaran hutan diawali dari tersulutnya api dengan intensitas kecil hingga menjadi besar dan dapat disebut sebagai kebakaran. Tentu saja hal ini melalui beberapa proses atau durasi waktu. Namun selain faktor waktu, ada pula beberapa faktor pendukung yang dapat mensukseskan proses pembakaran hutan. adapun beberapa faktor tersebut antara lain adalah:
  • ·    Sumber api
         Faktor pertama yang menjadi pemicu kebakaran adalah sumber api itu sendiri. sumber api disini maksudnya adalah penyebab kebakaran itu sendiri, seperti yang sudah disebutkan di atas yakni ada bahan bakar (minyak dan korek api), cuaca panas atau paparan sinar matahari yang begitu terik, percikan material- material vulkanik yang dilontarkan oleh gunung api, kebakaran yang terjadi di bawah tanah, atau aktivitas yang tidak disengaja seperti pembuangan puntung rokok.
  • ·  Bahan bakar
           Selanjutnya adalah bahan bakar. Tanpa bahan bakar tidak akan terjadi kebakaran itu sendiri. bahan bakar merupakan benda- benda yang dibakar setelah adanya sumber api. Di hutan, bahan bakar yang dimaksud adalah ranting dan dedaunan kering yang mudah terbakar sehingga memudahkan terjadinya kebakaran hutan.
  • ·  Oksigen atau angin
          Sedikit banyak udara atau oksigen menyumbang terjadinya kebakaran. Hal ini karena tanpa adanya oksigen, api tidak akan mudah hidup dalam waktu yang lama. Terlebih apabila oksigen atau udara yang tersedia dalam jumlah banyak dan memiliki energi (angin) maka kebakaran hutan akan semakin besar dan dapat menyebar dari satu tempat ke tempat lainnya.
Dampak positif :
  1. Sisa dari abu kebakaran tersebut bisa dijadikan pupuk kompos
  2. Memberi kesempatan kepada vegetasi baru untuk bisa tumbuh
  3. Membuka tempat pada matahari sehingga dapat langsung masuk ke dalam area  permukaan tanah hutan.
Dampak begatif kebakaran hutan
1.            Terancamnya habitat flora dan fauna
         Hutan merupakan tempat tinggal bagi berbagai macam jenis flora dan fauna. Selain menjadi tempat tinggal, hutan juga menjadi tempat mencari makan dan tempat berlangsungnya kehidupan flora dan fauna. Jika hutan terbakar maka lingkungan tempat berkembangbiaknya flora dan fauna akan rusak. Lebih jauh lagi, rusaknya habitat atau tempat hidup akan mempengaruhi kelangsungan hidup flora dan fauna yang tinggal di dalam hutan
2.            Terancamnya keanekaragaman hayati
         Setelah habitat flora dan fauna terancam, selanjutnya adanya keanekaragaman hayati juga akan terancam. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa hutan adalah tempat tinggal bermacam- macam hewan dan tumbuhan. Berbagai spesies hewan dan tumbuhan berada di dalamnya, baik itu spesies endemik maupun spesies lagi.
Ketika hutan terbakar maka mereke akan kehilangan tempat berlindung. Jika sudah kehilangan tempat berlindung, hewan dan tumbuhan langka lama- kelamaan juga akan mati. Matinya berbagai spesies tersebut akan mengurangi keanekaragaman hayati di Indonesia yang tadinya amat sangat beragam jenisnya.
3.            Terganggunya keseimbangan ekosistem
        Dampak selanjutnya yakni terganggunya keseimbangan ekosistem. Ekosistem dapat terganggu keseimbangannya karena peran hutan sebagai penyeimbang tersebut sudah tidak ada lagi. Hutan sudah rusak karena terbakar. Pohon- pohon yang tumbuh di hutan telah mati. Pohon- pohon yang biasanya mengurangi polusi udara dan menyimpan cadangan air sudah tidak ada lagi. Jika sudah terjadi demikian, maka ekosistem tidak akan bisa seimbang lagi
4.            Meningkatnya potensi bencana
      Kebakaran hutan saja sudah merupakan bencana. Satu bencana tersebut akan menimbulkan berbagai jenis bencana lain seperti banjir dan tanah longsor. Banjir disebabkan karena sungai tidak bisa menampung banyaknya air hujan sehingga menjadi air bah yang menggenangi pemukiman di sekitar sungai. Tanah yang biasanya membantu sungai untuk menahan air sudah tidak dapat lagi menjalankan perannya.
5.            Terjadi sedimentasi sungai
      Kebakaran hutan yang hebat akan menimbulkan banyak debu sisa pembakaran. Banyaknya sisa pembakaran hutan akan berterbangan dan dapat terbawa oleh aliran air. Setelah itu partikel- partikel sisa pembakaran akan mengalami proses sedimentasi di sungai dan mengakibatkan pendangkalan atau sedimentasi sungai. Sungai yang dangkal akan berakibat buruk bagi lingkungan. Sungai yang dangkal tidak bisa menampung besarnya volume air sehingga bisa menimbulkan banjir di kemudian hari.
6.            Terjadi erosi tanah
        Hutan memang memiliki banyak fungsi. Satu lagi fungsi hutan yaitu menahan erosi. Bagaimana hutan bisa menahan erosi? Hal ini sekali lagi berhubungan dengan pepohonan yang tumbuh di hutan. Rimbunnya daun- daun pepohonan dapat menjadi kanopi alami yang melindungi tanah dari derasnya air hujan.
Air hujan yang jatuh ke bumi mengandung tenaga potensial. Jika tenaga tersebut cukup besar maka bisa mengikis permukaan tanah. Jika hutan terbakar, maka tidak ada lagi pohon yang melindungi tanah dari besarnya energi potensial pada hujan sehingga terjadilah pengikisan oleh air atau lebih dikenal dengan erosi tanah .
7.            Terjadi alih fungsi hutan
       Hutan yang telah terbakar membutuhkan waktu lama untuk mengembalikannya ke kondisi semula. Reboisasi sulit dilakukan karena tanah sudah rusak. Meskipun dilakukan perbaikan tentu tidak akan sepenuhnya kembali seperti hutan sebelum terjadi kebakaran. Hal itu tak jarang membuat beberapa pihak membuat keputusan lain yakni mengalihkan hutan menjadi lahan perkebunan. Alih fungsi hutan tersebut sebenarnya sangat merugikan, baik bagi lingkungan maupun bagi makhluk hidup di sekitarnya .